Minggu, 30 Oktober 2011

DIDUGA LANGGAR HAK ASASI, BUPATI DAN KETUA DPRD DIPANGGIL KOMNAS HAM


Proses relokasi pedagang pasar Babat serta eksekusi pasar yang dilakukan pemerintah kabupaten Lamongan, 16 oktober lalu, terus berbuntut panjang. Senin ini, KOMNAS HAM memanggil bupati Lamongan serta ketua DPRD setempat untuk dimintai keterangan terkait dugaan adanya pelanggaran HAM saat proses relokasi mapun eksekusi.
Pemanggilan orang nomor satu di Lamongan, serta ketua DPRD oleh KOMNAS HAM ini, terkait adanya laporan pedagang pasar Babat yang diwakili oleh Chusnul Mariyah, yang juga merupakan mantan anggota KPU pusat.
Diduga, dalam pelaksanaan relokasi pedagang pasar Babat ke pasar Agrobis Babat, banyak ditemukan adanya pelanggaran hak azazi manusia. Baik mengenahi proses relokasi maupun saat eksekusi dilakukan.
Bagi pedagang yang telah memiliki sertifikat kepemilikan lapak, seharusnya diberikan ganti rugi terlebih dahulu bukannya disama ratakan dengan pedagang liar. Selain itu, proses perjanjian relokasi mestinya dilakukan antara pemkab dengan satu persatu pedagang. Namun kenyataannya, perjanjian tersebut hanya diwakili oleh pemkab dan APPSI yang tidak mampu mewakili semua pedagang yang berada di pasar Babat.
Untuk proses eksekusi pasar, pedagang menilai jika petugas terlalu arogan dalam melakukan pemerataan bangunan pasar. Tak sedikit dari petugas yang melakukan kekerasan terhadap pedagang yang mencoba menghalangi saat pelaksanaan kesekusi.
Makin Abbas, ketua DPRD Lamongan, membenarkan adanya pemanggilan dari KOMNAS HAM tersebut. Untuk itu, pihak DPRD mewakilkannya kepada wakil ketua DPRD, Saim, serta ketua komisi A DPRD, Jimmy. Didampingi oleh Muhammad Fariq, Kabag hukum pemkab Lamongan, untuk datang ke jakarta.
Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Lamongan, Anang Taufik, membantah jika telah terjadi pelanggaran HAM dalam proses relokasi pedagang. Menurutnya, surat yang dilayangkan ke KOMNAS HAM tersebut, bukan berasal dari APPSI Lamongan, melainkan hanya seseorang yang mengatas namakan sebagai anggota APPSI saja.
Read more »

Senin, 24 Oktober 2011

DIANGGAP MERUSAK MORAL, PULUHAN WANITA PENGHIBUR DIAMANKAN POLISI


Maraknya tempat hiburan malam di kawasan Lamongan, yang sebagian besar menyediakan minuman keras dan wanita penghibur, merupakan ancaman moral bagi warga setempat. Menyikapi hal itu, puluhan wanita penghiburpun, selasa siang (25/10), diamankan petugas untuk diberi pengarahan.
Longgarnya peraturan daerah kabupaten Lamongan bagi pengelola tempat hiburan malam dalam setahun terakhir, mengakibatkan mulainya bermunculan tempat-tempat hiburan malam yang baru, yang kesemuanya menyajikan minuman keras dan wanita penghibur.
Di kawasan kota Lamongan saja, terdapat 8 tempat hiburan malam. Jumlah tersebut, belum termasuk tempat-tempat hiburan yang tersebar di setiap kecamatan.
Kondisi tersebut, merupakan ancaman moral bagi warga Lamongan yang selama ini dikenal dengan jumlah pondok pesantren yang cukup besar, khususnya di wilayah jawa timur.
Pasalnya, di setiap ruas jalan dan tempat keramaian, meski disiang hari, kerap kali dijumpai wanita penghibur yang lalu lalang dengan pakaian yang tidak senonoh.
Menyikapi hal itu, petugas gabungan yang berasal dari kepolisian, Satuan Polisi Pamong Praja dan Dinas Perizinan, selasa siang, mengamankan puluhan wanita penghibur dan pengelola tempat hiburan yang beroprasi di kawasan kota Lamongan.
Tujuannya, untuk memberikan peringatan terhadap para wanita penghibur agar menjaga cara berpakaian mereka ketika berada di lingkungan masyarakat. Selain itu, pihak pengelola tempat hiburan, diwajibkan mengarahkan pegawainya untuk tidak memakai pakaian yang tak senonoh saat bekerja melayani tamu.
Akp Gunawan, kasubag Humas Polres Lamongan, menegaskan, pihak kepolisian akan terus melakukan pemeriksaan secara intensif kepada semua tempat hiburan malam. Jika ditemukan pegawainya masih berpakaian tidak sopan, maka akan segera dipasang garis polisi dan direkomendasikan akan ditutup oleh pemerintah kabupaten setempat.
Read more »

Minggu, 23 Oktober 2011

SEKOLAH AMBRUK, SISWA KERJAKAN UJIAN DI PERPUSTAKAAN


Amruknya Sekolah Dasar Negeri di kecamatan Karang Geneng, Lamongan, tidak membuat pemerintah kabupaten setempat segera bertindak. Akibatnya, siswapun terpaksa melaksanakan Ujian Tengah Semester di perpustakaan yang disekat menjadi dua kelas.
Empat hari setelah ambruk, kondisi Sekolah Dasar Negeri Rarang Rejo, yang berada di desa Karang Rejo, kecamatan Karang Geneng Lamongan, hingga senin pagi, masih nampak seperti semula.
Puing-puing reruntuhan atap dan batu bata, masih berserakan di dalam ruangan kelas dan belum mendapat penanganan dari pemerintah setempat, meski kondisinya amat memprihatinkan.
Siswa yang mulai hari senin ini tengah menghadapi Ujian Tengah Semester, terpaksa harus dipindahkan di ruang perpustakaan dan disekat menjadi dua ruang kelas, yakni kelas lima dan kelas enam. Kondisi ini, terang saja menggganggu konsentrasi siswa dalam mengerjakan soal ujian.
Sementara untuk siswa kelas satu hingga kelas empat, ditempatkan pada dua ruangan yang masih tersisa. Yang sama-sama harus disekat menjadi dua bagian.
Seperti yang diungkapkan oleh aprilia, siswa kelas empat ini. Dengan disekatnya satu ruangan menjadi dua kelas, ia tidak dapat maksimal dalam mengerjakan soal ujian, dan berharap agar pemerintah kabupaten setempat sesegera mungkin membangun sekolahnya.
Selain siswa, para gurupun mengaku terganggu dengan kondisi ini. Dari tiga ruangan yang tersisa setelah dua ruangan ambruk, siswa hanya mengandalkan dua ruangan untuk proses belajar mengajar, sementara satu ruangan lagi dipakai untuk kantor guru dan kepala sekolah.
Melihat kondisi yang amat memprihatinkan tersebut, diharapkan pemerintah setempat segera turun tangan untuk mencarikan solusi agar para siswa bisa belajar dengan tenang.
Read more »

Kamis, 20 Oktober 2011

SEKOLAH AMBRUK, DUA SISWA NYARIS MENJADI KORBAN


Akibat bangunan yang telah rapuh, sebuah Sekolah Dasar Negeri di Lamongan, kamis siang (20/10), ambruk. Dalam kejadian tersebut, dua siswa nyaris menjadi korban jika tak segera diselamatkan oleh gurunya.

Di tengah gencarnya program pemerintah mengucurkan Dana Alokasi Khusus untuk pendidikan, (D-A-K), di Lamongan masih saja ditemukan sebuah gedung sekolah yang tak lagi layak digunakan.

Bahkan, gedung Sekolah Dasar Negeri Karang Rejo, yang berada di desa Karang Rejo, kecamatan Karang Geneng, Lamongan ini, kamis siang ambruk. Sebagian besar plafon dan tembok runtuh.

Dugaan kuat, ambruknya dua ruang kelas, yakni kelas lima dan kelas enam ini, diakibatkan karena bangunan yang telah rapuh. Pasalnya, sejak dibangun pada tahun 1978 lalu, sekolah milik pemerintah ini, hanya mendapatkan bantuan satu kali pada tahun 2004, itupun hanya untuk perbaikan plafon saja.

Suharso, wali kelas lima SDN Karang Rejo menjelaskan, ambruknya gedung sekolah ini, terjadi dua kali, sebelum ruang kelas ambruk, paginya, flapon yang berada di teras sekolahanpun telah ambruk terlebih dahulu. Meski khawatir, pihak sekolah terus melanjutkan proses belajar mengajar lantaran tidak ada ruangan lagi bagi siswa.

Saat proses belajar mengajar berlangsung, plafon dan atap ruangan kelas ikut ambruk. Bahkan, dua siswa kelas lima nyaris menjadi korban tertimbun batu bata jika saja ia tak segera menyelamatkannya.

Dengan kondisi ini, pihak sekolah, hanya mampu berharap, adanya upaya pemerintah kabupaten setempat untuk segera mengambil tindakan. Jika tidak empat puluh delapan siswa kelas lima dan kelas enam, tidak akan bisa melaksanakan proses belajar mengajar.
Read more »

Selasa, 18 Oktober 2011

NGON A DJAM LOLOS SELEKSI PEMAIN PERSELA


Setelah beberapa hari mengikuti seleksi di tim persela lamongan, Claude Parfait Ngon a Djam, akhirnya mampu memikat hati Miroslav Janu. Usai melakukan seleksi akhir, rabu siang, pelatih persela akhirnya meloloskan pemain asal kameron tersebut.
Dua minggu mengikuti seleksi di tim persela lamongan, Claude Parfait Ngon a Djam, pemain asal kameerun yang lahir tiga puluh satu tahun lalu ini, akhirnya berhasil memikat hati Miroslav Janu, pelatih persela lamongan.
Hari terakhir seleksi pemain yang dilakukan rabu siang, di stadion surajaya lamongan ini, miroslav janu telah mencatat sejumlah pemain yang bakal membela laskar joko tingkir di perhelatan persepak bolaan tanah air.
Meski Claude Parfait Ngon a Djam. Pemain yang pernah membela Sriwijaya FC, juga Persebaya surabaya ini, pernah mengalami cidera dan sempat diisukan mengalami penurunan kemampuan. Namun, setelah kerja keras, iapun dapat pulih dan siap membela persela lamongan.
Selain nama Claude Parfait Ngon a Djam, persela lamongan juga meloloskan tiga pendatang baru yang datang bersamanya di persela, yakni Diva Tarkas, Usep Munandar dan Faturrachman.
Miroslav Janu, pelatih persela lamongan, menegaskan, seleksi yang dilakukan ini merupakan hari terakhir. Seluruh pemain yang ia pilih telah dicatat dan akan segera diserahkan kepada pihak management.
Dari tiga puluh lima pemain yang mengikuti seleksi pada hari terakhir ini, hanya dua puluh lima pemain yang nantinya akan direkrut dan segera melakukan kontrak dengan pihak management.

Read more »

Minggu, 16 Oktober 2011

PASCA EKSEKUSI, PEDAGANG PASAR BABAT MASIH TRAUMA


Paska dilakukannya eksekusi paksa oleh petugas minggu kemaren.  Sejumlah pedagang pasar Babat, Lamongan terlihat masih memunguti sisa-sisa barang dan bahan bangunan bekas tempat berjualan mereka yang masih bisa dibawa pulang. Mereka mengaku masih trauma dan untuk sementara memilih tinggal di rumah saja hingga situasi kembli normal.
Sejumlah pedagang pasar Babat Lamongan, hingga senin siang, masih nampak sibuk memungguti barang serta puing puing lapak bekas tempat mereka berdagang paska  pembongkaran paksa  yang dilakukan petugas minggu kemaren.
Pedagang pasar Babat ini mengaku takut jika barang barang sisa pembongkaran akan dimusnakan petugas gabungan dari polres Lamongan, Satuan Polisi Pamong Praja serta T-N-I yang masih terus bersiaga di lokasi pasar.
Sejumlah pedagang dipasar Babat ini, mengaku kecewa dengan eksekusi paksa yang dilakukan petugas. Pasalnya,  antara pemerintah kabupaten setempat dan pedagang belum terjadi kesepakatan. Namun, pihak pemkab sudah melakukan eksekusi. Selain itu, ia mengaku kecewa atas perlakuan petugas yang arogansi.
Seperti yang diungkapkan oleh wahyuningsih. Akibat eksekusi tersebut, ia merasa trauma dan berencana membawa sisa-sisa eksekusi untuk dibawa pulang. Ia akan menunggu suasana normal meski belum tahu pasti di mana ia akan kembali berjualan.
Akibat dari pembongkaran paksa pasar Babat ini, setidaknya 2.700 pedagang nasibnya kian tidak jelas.
Read more »